Jumat, 05 Januari 2018

Piagam Gumi Sasak

Masyarakat suku Sasak pada dasarnya sangat menjunjung tinggi kebudayaan lokal sebagai sebuah warisan budaya dari para leluhur. Namun, tidak jarang budaya lokal semakin terbawa arus oleh zaman dikarenakan generasi muda yang lebih condong terhadap budaya-budaya asing yang baru.meneurut penuturan Bapak Murahim, S.Pd., M.Pd. Salah satu dosen pendidikan Bahasa Indonesia  FKIP Universitas Mataram, mengatakan bahwa sejarah telah dibolak-balik, diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa-penguasa. Dengan demikian ini menjadi alasan beliau dan kawan-kawan lainnya untuk memperbaiki kondisi sejarah Sasak yang melenceng dari arah yang sebenarnya.  Akhirnya beliau dan kawan-kawan sepakat menemui para tokoh-tokoh budaya, tokoh-tokoh agama, dan para penguasa resmi, untuk kemudian difasilitasi oleh majelis adat Sasak. Kemudian disepakatilah untuk mengeluarkan Manifesto kebudayaan yang menyatakan, bagaimana jika kita melindungi sesuatu yang benar. Selanjutnya manifesto tersebut dibicarakan lagi sehingga beberapa tokoh beranggapan bahwa kata manifesto tidak cocok dengan budaya Sasak. Sehingga terbentuklah Piagam Gumi Sasak dengan tujuan untuk membangkitkan kembali dan menunjukkan jati diri masyarakat Sasak.

PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Menjadi bangasa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT, dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Symbol-symbol yang diletakkan itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keleluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai pembohongan sejarah denngan berbagai kepentingan para penguasa yang telah berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Petama   :   Berjuang bersaa menggali dan menegakkn jati diri bangsa sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya sasak.
Kedua     :  Berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa sasak agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutannya, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya sasak
Ketiga      Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa yang maju dan menjunjung tinggi niali religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :   Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa sasak baru dengan kejatidirian yang kuat utnuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima    :   Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga allah senang tiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jemawal 1437/H
 26 Desember 2015


Ditandatangani Oleh.
1.      Drs. Lalu Azhar
2.      Drs. Haji Lalu Mujtahid
3.      Drs. Lalu Bayu Windia, M.si
4.      TGH. Ahyar Abduh
5.      Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph.D
6.      Dr. Muhammad Fajri, M.A
7.      Dr. Jamaludin, M. Ag
8.      Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum
9.      Drs. H. A. M uhit Ellepaki, M. Hum
10.  Dr. H. Sudirman, M.Pd
11.  Dr. H. L., Agus Fathurraman
12.  Mudzirin
13.  L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd

Kamis, 04 Januari 2018

Lumbung Padi Suku Sasak



Di Indonesia banyak sekali suku dan budaya asli masyarakat yang tersebar dari ujung Sabang hingga ujung Merauke, ribuan suku asli Indonesia tersebar dengan ciri khas masing-masing, salah satunya adalah suku  asli Lombok yang dikenal suku Sasak. Di Pulau Lombok masih banyak dijumpai masyarakat tersebut dengan budayanya yang khas. Salah satunya adalah rumah suku Sasak seperti lumbung padi, yang dibangun dengan menggunakan bahan alami seperti kayu dan rotan. Lantainya adalah tanah yang dipadatkan dan pintu masuknya pas seukuran tubuh orang dewasa dan agak sedikit merunduk ketika melewatinya.
 Lumbung padi atau yang disebut juga sakempat oleh masyarakat sasak ini, menjadi bangunan yang bernilai penting bagi suku Sasak  di Lombok. Bahkan, pemerintah daerah setempat menggunakan lumbung tersebut sebagai bagian dari lambang resmi Kabupaten Lombok Tengah.

Suku Sasak menjadi penduduk mayoritas di Pulau Lombok. Mereka masih menjunjung tinggi tradisi yang sudah turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Salah satu yang masih dijaga adalah lumbung padi, Tempat para pria suku Sasak menyimpan hasil bumi setelah panen.

Masyarakat suku Sasak memang rata-rata berprofesi sebagai petani. Para pria akan pergi ke ladang atau sawah, sementara para wanita tinggal di rumah menenun kain dan membuat kerajinan tangan untuk dijual kepada para wisatawan.

Atap bangunan lumbung yang dibuat tinggi ternyata ada alasannya. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari bila ada banjir, atau hama tikus. Sehingga hasil panen yang disimpan di sana akn tetap aman.

Rabu, 27 Desember 2017

Nyongkolan, sebuah tradisi leluhur



Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.
Saat pelaksanaan tradisi nyongkolanini,  arak-arakan pasangan pengantin didampingi oleh dedare dedare dan terune terune sasak, juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemuka adat beserta sanak saudara berjalan mengelilingi desa. Peserta iring-iringan tersebut haruslah mengenakan
khas adat suku Sasak, untuk peserta wanita menggunakan

Lambung (kadang-kadang juga menggunakan baju kebaya), kereng nine / kain songket (sarung khas Lombok), sanggul (penghias kepala), anting dan asesoris lainnya. Bagi pengiring laki-laki menggunakan baju model jas berwarna hitam (atau variasi) yang dijuluki tegodek nongkeq, kereng selewoq poto (sarung tenun panjang khas Lombok) dan capuk (ikat kepala khas Lombok). 



Dalam tradisi nyongkolan, kedua pengantin diibaratkan seperti seorang raja dengan pasangan permaisuri-nya yang diiringi oleh para pengawal dan dayang-dayang istana. Beberapa dari mereka biasanya membawa sebuah hantaran seperti hasil kebun, sayur mayur, ataupun jenis buah-buahan yang akan dibagikan pada penonton, kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Dalam ritual khas pernikahan suku Sasak Lombok, nyongkolan merupakan bagian kecil ritual yang harus dilakukan oleh kedua mempelai.


Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki.
Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan bibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang dibawanya memiliki aturan tertentu.
hingga saat ini Nyongkolan masih tetap dapat ditemui di Lombok, iring-iringan yang menarik masyarakat untuk menonton karena suara gendangnya ini biasanya diadakan selepas dhuhur di akhir pekan. apabila anda melakukan perjalanan antar kota do Lombok, maka bersiaplah untuk menghadapi kemacetan insidental akibat Nyongkolan yang dapat anda temui sepanjang jalan, apabila di kahir pekan tersebut banyak digelar pernikahan.